Ketika Suara Menjadi Doa
Pada pagi hari itu alaram yang ku pasang mulai berbunyi nyaring memasuki telinga ku. Aku berusaha bangun dengan mata yang masih berat, di luar langit masih samar samar, udara terasa sangat dingin membuat enggan bangun dari tempat tidur ku. Aku bertanya pada diriku sendiri "apakah aku bisa melayani Tuhan dengan baik hariini?". Aku merasa ragu-ragu namun aku teringat sebuah kutipan yang selalu menguatkanku: ‘When you sing, you pray twice.’ Kutipan itu membuat ku teringat kembali bahwa setiap nada yang ku keluar itu bukan sekedar suara saja tetapi doa yang ku persembahkan untuk Tuhan.
SEE
Seteleh bersiap aku pergi menggunakan mobil bersama keluarga ku. Setibanya di Gereja aku melangkahkan masuk kedalam gereja yang masih di penuhi aroma kayu lembab dan cahaya matahari yang masuk melalui jendela kaca Gereja. Suasana di tempat itu begitu tenang, saat aku berjalan menuju tangga tempat aku melayani Tuhan, aku melihat para anggota lain sedang mempersiapkan diri, ada yang sedang memeriksa partitur, dan ada beberapa yang sedang berlatih mengambil nada, ada juga yang sedang berdoa sambil melipatkan tanggan di atas dada. Di tengah keheningan itu aku merasa sebuah perasaan takut dan binggung, seolah suara yang akan kita nyanyikan akan bergema di hati ku, menunggu untuk dihidupkan bersama. Di langit-langit gereja, pantulan cahaya menciptakan kilau lembut, seakan menegaskan bahwa pelayanan ini bukan sekadar menyanyi, melainkan doa yang menghadirkan sesuatu yang suci bagi seluruh umat.
JUDGE
Dalam suatu suasana tenang itu, aku teringat teladan Bunda Maria sosok yang selalu menghadirkan kesetiaan, ketulusan, dan kerendahan hati dalam setiap jalan langkahnya. Dari pelayanan koor ini aku belajar banyak bahwa saat kita melayani Tuhan bukan hanya perkara teknik kita bernyanyi,bagus kah suara kita?, namun pelayanan ini mengajarkan kita untuk memberikan diri secara total, sebagai mana Bunda Maria memberikan hatinya secara total hatinya untuk menjalankan kehendah Allah. Ketika kami menyatukan suara kami di dalam suatu harmoni, aku menyadari bahwa pelayanan yang aku jalani ini memiliki nilai kesabaran, pengendalian diri, dan pengorbanan yang sering kali tidak terlihat oleh orang lain. Saat selesai melayani Tuhan dengan suara ku aku merasa kerinduan untuk kembali melayani Tuhan dengan suara ku.
ACT
Dari pengalaman aku saat bertugas koor di gereja, aku ingin meneguhkan sebuah komitmen pribadi untuk diriku sendiri: bahwa setiap kali aku melayani tugas dalam koor sekolah, aku akan menghadirkan seluruh hatiku, bukan hanya suaraku saja. aku berjanji untuk terus melayani Tuhan dengan sepenuh hati dengan cara terus mengembangkan diri dengan terus berlatih dengan rajin dan sepenuh hati, dan melayani Tuhan dengan rendah hati. Agar setiap suara yang aku keluar dari mulut kecil ku akan menjadi doa yang baik bagi kehidupan ku dan kehidupan umat-umat ke depannya. Aku juga ingin lebih peka terhadap sesama anggota-anggota koor, menciptakan suasana yang saling mendukung satu sama lain, karena harmoni tidak hanya lahir dari suara yang kita keluarkan dari mulut kita, tetapi juga dari hati yang bersatu padu dalam sebuah kehangatan. Dengan meneladani kelembutan dan keberanian Bunda Maria, aku ingin lebih melangkah dengan keyakinan penuh bahwa pelayanan kecil ku ini dapat menjadi saluran kasih Tuhan, sekecil apa pun bentuknya itu.Pada akhirnya, perjalanan dalam pelayanan koor selalu membawa aku kembali pada satu kesadaran sederhana bahwa setiap langkah kecil yang kuambil menuju altar, setiap nada yang kuhembuskan bersama teman-teman sepelayanan, dan setiap getaran suara yang memenuhi ruang gereja, adalah bagian dari kisah yang jauh lebih besar daripada diriku sendiri. Dalam denting harmoni yang tercipta, aku belajar bahwa melayani bukanlah tentang kesempurnaan suara atau keberanian tampil di depan jemaat, melainkan tentang hati yang tulus dan bersedia dibentuk oleh kasih Tuhan, setulus apa pun bentuknya.Ada kalanya aku merasa tidak cukup baik, tidak cukup kuat, atau tidak cukup yakin untuk berdiri di sana dan bernyanyi bersama teman-temanku. Namun, justru di situlah aku merasakan bahwa Tuhan selalu hadir dalam diam, lembut, tetapi menguatkan diri ku yang penuh keraguan ini. Ia menyentuh hati kecil ku melalui senyum kecil teman-teman koor ku, melalui alunan piano yang membuka latihan, atau melalui bisikan doa di tengah keheningan sebelum misa dimulai. Setiap detail itu seperti undangan untuk tetap setia, untuk tetap hadir, dan untuk mempersembahkan diriku apa adanya.Dan ketika aku mencoba meneladani Bunda Maria dengan kesederhanaannya, kerelaannya, dan keberaniannya untuk menjawab panggilan Tuhan. dari situ aku menyadari bahwa pelayanan ini juga adalah bentuk kecil yang kita lakukan. Maka, dengan segala keterbatasanku, aku ingin tetap berjalan di jalan ini. Sebab pada akhirnya, melayani berarti mempersembahkan diri apa adanya, seutuhnya kepada Dia yang lebih dulu mengasihi. Dan biarlah setiap nada yang kupersembahkan menjadi bisikan syukur, tanda kecil bahwa aku ingin selalu berada dalam rencana-Nya yang besar.





Tidak ada komentar:
Posting Komentar